Minggu, 22 Februari 2026

MEMBANGUN KOMUNIKASI DAN KESATUAN DALAM PERNIKAHAN


📖 MATERI 1

MEMBANGUN KOMUNIKASI DAN KESATUAN DALAM PERNIKAHAN

📌 Dasar Alkitab:

Kejadian 2:24; Efesus 4:29; Yakobus 1:19; Kolose 3:13-14

Pendahuluan

Pernikahan bukan hanya penyatuan dua tubuh, tetapi dua pribadi, dua karakter, dua latar belakang, dan dua cara berpikir. Banyak konflik rumah tangga bukan karena kurangnya cinta, tetapi karena kurangnya komunikasi yang sehat.

Allah merancang pernikahan sebagai kesatuan yang utuh, bukan kompetisi.


I.    Prinsip Alkitab tentang Kesatuan

1.               Meninggalkan dan Bersatu (Kejadian 2:24)

Suami dan istri harus:

·       Tidak lagi dikendalikan oleh keluarga lama

·       Belajar membangun identitas keluarga baru

·       Menjadi satu dalam visi, tujuan, dan nilai

👉 Pertanyaan Konseling:

·       Apakah ada campur tangan pihak luar yang mempengaruhi rumah tangga?

·       Apakah keputusan diambil bersama?

2.               Cepat Mendengar, Lambat Berkata-kata (Yakobus 1:19)

Masalah umum:

·                  Suami tidak mau mendengar

·                  Istri merasa tidak dipahami

·                  Komunikasi berubah menjadi tuduhan

Latihan praktis:

·                  Gunakan kalimat “Saya merasa…” bukan “Kamu selalu…”

·                  Dengarkan tanpa memotong pembicaraan

·                  Berdoa sebelum membahas konflik besar

3.               Perkataan yang Membangun (Efesus 4:29)

Hindari:

·            Kata-kata kasar

·            Membandingkan pasangan dengan orang lain

·            Mengungkit masa lalu

Bangun kebiasaan:

·            Ucapan terima kasih

·            Pujian sederhana

·            Doa bersama setiap hari

4.               Mengampuni dan Mengasihi (Kolose 3:13-14)

Tidak ada pernikahan tanpa luka. Tetapi tidak ada luka yang tidak bisa dipulihkan jika ada pengampunan.

👉 Konseling reflektif:

·               Apakah masih ada kepahitan yang belum diselesaikan?

·               Sudahkah benar-benar mengampuni, bukan sekadar diam?

 

II. Praktik Konseling

Tugas Rumah:

1.  Doa bersama minimal 10 menit setiap hari.

2.  Satu hari dalam minggu sebagai “hari komunikasi jujur”.

3.  Tidak tidur sebelum konflik diselesaikan (Efesus 4:26).

Penutup

Kesatuan bukan terjadi otomatis, tetapi dibangun setiap hari dengan:

·         Kerendahan hati

·         Kesabaran

·         Komitmen kepada Tuhan

 


 

penjelasan tentang Orang tua dan anak

penjelasan tentang Orang tua dan anak
penjelasan tentang Orang tua dan anak
penjelasan tentang Orang tua dan anak
penjelasan tentang Orang tua dan anak
penjelasan tentang Orang tua dan anak



MIMBAR BEBAS


<iframe src="https://drive.google.com/file/d/1XDjTKZOiDvYVT4-K8BOzNEHjLQucq1Vs/preview" width="680" height="480"></iframe> 

Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, 

 Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, Mimbar Bebas,

Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, 

Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, Mimbar Bebas, 

 

Minggu, 08 Februari 2026

KAUM YANG TIDAK BERSUARA DI TENGAH PENCEMARAN NAMA BAIK DI RUANG PUBLIK

 

SEBUAH NARASI:

KAUM YANG TIDAK BERSUARA DI TENGAH PENCEMARAN NAMA BAIK DI RUANG PUBLIK

(Perspektif Alkitab dan Hukum Positif Indonesia)

Pdt. DAUD PIGOME, S.Th., M.Mis.

  

Pengantar :

Di tengah hiruk-pikuk masyarakat modern, terdapat sekelompok manusia yang kerap hadir namun jarang terdengar: kaum yang tidak bersuara. Mereka adalah orang-orang yang menjadi korban pencemaran nama baik, penghinaan, dan bahkan penganiayaan secara terbuka di ruang publik—termasuk tindakan mempermalukan tubuh dan martabat manusia secara telanjang, baik secara fisik maupun simbolik. Ketidakbersuaraan mereka bukan selalu karena tidak mampu berbicara, melainkan karena takut, tertekan, tidak diberi ruang, atau dibungkam oleh kekuasaan sosial dan budaya.

Baik Alkitab maupun Undang-Undang memandang martabat manusia sebagai sesuatu yang suci, tak tergantikan, dan harus dilindungi. Ketika martabat itu dilanggar, diamnya korban bukanlah tanda persetujuan, melainkan jeritan yang tidak terdengar.

 

1.   Kaum yang Tidak Bersuara: Realitas Sosial

Kaum yang tidak bersuara sering kali berasal dari kelompok rentan: orang miskin, perempuan, anak-anak, minoritas, atau mereka yang berada dalam posisi lemah secara sosial dan hukum. Dalam kasus pencemaran nama baik, korban dipermalukan melalui fitnah, gosip, atau tuduhan palsu. Dalam kasus penganiayaan “kasih telanjang” di publik, korban tidak hanya disakiti secara fisik, tetapi dirampas rasa aman, harga diri, dan identitas kemanusiaannya.

Budaya tontonan (spectacle culture) membuat penderitaan korban berubah menjadi hiburan publik. Diamnya korban lalu disalahartikan sebagai kelemahan, padahal sesungguhnya itu adalah luka yang belum mendapatkan keadilan.

 

2.   Perspektif Alkitab: Allah Mendengar yang Tidak Bersuara

Alkitab dengan sangat jelas berpihak kepada mereka yang tertindas dan dibungkam.

·       Amsal 31:8–9 “Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana.”

Ayat ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan perintah ilahi agar umat Allah menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara.

·       Mazmur 34:19 “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.”

Allah tidak mengabaikan korban pencemaran dan penganiayaan; Ia justru hadir paling dekat di tengah kehancuran martabat manusia.

·       Yesaya 53:7

Kristus sendiri digambarkan sebagai Pribadi yang diam ketika difitnah dan dianiaya. Diam-Nya bukan kelemahan, tetapi cermin penderitaan orang benar yang dipermalukan di hadapan publik.

Dalam perspektif Alkitab, mempermalukan tubuh dan nama seseorang berarti menentang gambar Allah (Imago Dei) yang melekat pada setiap manusia (Kejadian 1:27). Oleh karena itu, pencemaran nama baik dan penganiayaan terbuka adalah dosa sosial yang serius.

 

3.   Perspektif Hukum (UU Indonesia): Martabat Manusia Dilindungi Negara

Negara Indonesia secara tegas mengakui dan melindungi kehormatan serta martabat manusia.

1.UUD 1945 Pasal 28G ayat (1) Menjamin perlindungan diri pribadi, kehormatan, martabat, dan rasa aman setiap warga negara.

2.KUHP (dan KUHP Nasional baru)

o   Pencemaran nama baik dan penghinaan merupakan tindak pidana, baik secara lisan, tulisan, maupun media digital.

o   Penganiayaan di ruang publik, terlebih yang merendahkan martabat (termasuk tindakan mempermalukan tubuh), merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan individu.

3.UU ITE Mengatur pencemaran nama baik dan perundungan di ruang digital, yang sering menjadi perpanjangan dari kekerasan di ruang publik.

Hukum tidak memandang diamnya korban sebagai pembenaran. Justru diamnya korban sering menjadi indikator ketimpangan kuasa yang wajib diperbaiki oleh negara dan masyarakat.

 

4.     Titik Temu Alkitab dan UU: Keadilan dan Pemulihan

Baik Alkitab maupun hukum positif bertemu pada satu prinsip utama: manusia tidak boleh dipermalukan dan dilukai martabatnya.

·       Alkitab menekankan keadilan restoratif: memulihkan korban, menegur pelaku, dan membangun kembali komunitas.

·       Hukum menekankan keadilan yuridis: memberi sanksi, efek jera, dan perlindungan hukum.

Keduanya sepakat bahwa diam bukanlah keadilan, dan pembiaran adalah bentuk kekerasan baru.

 

5.     Tanggung Jawab Moral Masyarakat

Kaum yang tidak bersuara membutuhkan:

·       Gereja yang berani bersuara profetis

·       Negara yang tegas menegakkan hukum

·       Masyarakat yang berhenti menikmati penderitaan orang lain

Yesus berkata: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku.” (Matius 25:40)

 

Penutup

Kaum yang tidak bersuara bukanlah kaum yang tidak memiliki nilai, melainkan kaum yang dirampas suaranya. Pencemaran nama baik dan penganiayaan kasih telanjang di publik adalah luka sosial yang menuntut keberanian moral dan hukum.

Alkitab memanggil kita untuk membuka mulut bagi yang dibungkam. Undang-Undang memanggil kita untuk melindungi yang dilecehkan. Ketika keduanya berjalan bersama, keadilan bukan hanya ditegakkan—tetapi martabat manusia dipulihkan. Kiranya Narasi ini menjadi peringatan bagi kita sekalian, TUHAN YESUS memberkati kita sekalian, SHALLOM

 

Nabire, 06 Februari 2026

 

 

Penulis

Pdt. DAUD PIGOME, S.Th, M.Mis

 

 

Sabtu, 07 Februari 2026

KAUM YANG TIDAK BERSUARA

https://drive.google.com/file/d/1gmZ52ET8lbQ5FkrGInQODSwMJfG4DP99/view?usp=drivesdk https://drive.google.com/file/d/1gmZ52ET8lbQ5FkrGInQODSwMJfG4DP99/view?usp=drivesdk

Kamis, 08 Agustus 2019

KASIH KRISTUS TERCURAH KEPADA MANUSIA 1 Yohanes 4:7-21

  KASIH KRISTUS TERCURAH KEPADA MANUSIA
1 Yohanes 4:7-21

PENDAHULUAN:
1. Surat ini mengungkapkan dua hal penting :
1.1. Pertama : Bahwa Allah adalah Terang (1:5).
1.2. Kedua : Bahwa Allah adalah Kasih (4:8, 16)
2. Beberapa hal yang dapat kita pelajari untuk membuktikan bahwa kasih Allah tercurah pada kita.

I. KASIH ADALAH SIFAT UTAMA ALLAH – ay.19-10; 14-16
Telah mengutus AnakNya Yang Tunggal ke dalam dunia supaya kita hidup – ay.9.
Telah mendamaikan kita dengan diriNya – ay.10.
Telah memberikan kasih Illahi kepada yang percaya – ay.16.

II. KASIH ALLAH DICURAHKAN KEPADA ORANG PERCAYA
Kita sanggup saling mengasihi karena Allah – ay.7.
Kita mewarisi sifat utama Allah yaitu kasih – ay.8.

III. KEHIDUPAN MANUSIA TANPA ALLAH HANYA MEMENTINGKAN DIRI – ay.11, 19
Kecenderungan manusia tanpa Allah menjadi egoisme – ay.11.
Kecenderungan manusia tanpa Allah tanpa melihat kasih – ay.19.

IV. KASIH ADALAH ALAT UNTUK MENYELAMAT KAN DUNIA – ay.12
Belum ada manusia melihat Allah.
Kasih membuktikan kita memiliki Allah.
Kasih sanggup menyelamatkan dunia dari bencana.

V. KASIH ALLAH HARUS DIPRAKTEKKAN – ay.13, 16
Karena kita di dalam Allah dan Allah di dalam kita.
Praktek kasih bukti kita di dalam Allah.

VI. KASIH ALLAH MEMBERI KEBERANIAN MASA DEPAN – ay.17
Kita telah mempraktekkan kasih Allah.
Kita tidak takut  menghadapi penghakiman.
Kita berani menghadap Allah.

VII. KASIH ALLAH MEMIMPIN DALAM KEHIDUPAN – ay.18
Kita tidak ada ketakutan karena kasih Allah.
Ketakutan mengandung hukuman dan kasih mengandung kehidupan.

VIII. KASIH ALLAH DIBUKTIKAN KEPADA SESAMA
Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita – ay.19.
Kita mengasihi sebagai bukti mengenal Allah – ay.20.
Kita mengasihi sebagai tanda ketaatan kepada Allah – ay.21.

KESIMPULAN :
Kasih Allah tercurah kepada kita maka kita hidup dalam kasih yang sempurna dalam gereja.
Kasih Allah diperlukan oleh dunia yang haus akan kasih supaya mengenal damai sejahtera.
Kasih Allah harus dinyatakan melalui kita, orang percaya kepada dunia yang dalam kegelapan.

OLOKAN MENJELANG PENYALIBAN YESUS KRISTUS Matius 27:27-31; Markus 15:16-20; Yohanes 19:2-3

OLOKAN MENJELANG PENYALIBAN YESUS KRISTUS
Matius 27:27-31; Markus 15:16-20;
Yohanes 19:2-3
PENDAHULUAN:
1. Tema menjelaskan bahwa Yesus Kristus menjelang penyalibanNya mengalami olokan yang luar biasa.
2. Tiga hal yang akan kita pelajari dan renungkan  dalam bagian ini ialah ;

I. TEMPAT OLOKAN TERHADAP TUHAN YESUS “GEDUNG PENGADILAN” – ay.27
Dalam bahasa Yunani PRETORION. Gedung Pengadilan.
Berasal dari kata PRETOR (wali negeri) yang menjadi tempat kediaman wali negeri.
Sejarahnya : bekas istana Raja Herodes Agung. Setiap para wali negeri naik ke Yerusalem  dari Kaisarea mereka tinggal di gedung tersebut. Terletak di sebelah Timur kota dan dekat dengan Bait Allah. Dipakai Herodes untuk menerima Tuhan Yesus dari Pilatus (Luk.23:7-12).

II. BENTUK-BENTUK OLOKAN YANG DITERIMA TUHAN YESUS – ay.28-31
Dikenakan jubah ungu – ay.28.
Dalam bahasa Yunani “KLAMUDA”  ialah mantel prajurit Roma (sagum).
Berwarna merah sehingga menyerupai warna ungu yang merupakan warna kerajaan.
Tuhan Yesus oleh mereka diakui sebagai Raja Yahudi.
Raja orang Yahudi – ay.29-31.
Orang Yahudi mengolok Tuhan Yesus sebagai Nabi – Mat.26:68, tetapi prajurit Roma mengolokNya sebagai Raja.
Hal kedua olokan sama sesuai dengan tuduhan yang diutarakan di pengadilan yaitu : Tuduhan dibidang agama dan bidang politik.
Bentuk-bentuk olokan yang diterima Tuhan Yesus.
Mengenakan Mahkota duri di kepala Yesus.
Memberikan sebatang buluh di tangan kanan.
Mereka berpura-pura berlutut dan memberi salam.
Mereka meludahi muka Yesus.
Mereka mengambil dan melecehkanNya.
Mereka menanggalkan jubah yang dikenakanNya.
Mengenakan kembali pakaian Yesus sebagai olokan.

III. SETELAH TUHAN YESUS DIOLOK-OLOK – ay.31.c
Mereka membawa keluar gedung pengadilan untuk menerima puncak penderitaan dosa manusia di atas kayu salib yang kasar.
Tentang penyaliban dan kematian Tuhan Yesus Kristus akan kita renungkan pada Hari Jum’at Agung.

KESIMPULAN :
Olokan terhadap Tuhan Yesus gambaran betapa hebatnya penderitaan akibat dosa yang seharusnya ditanggung oleh manusia.
Karena Tuhan Yesus maka kita manusia terlepas dari hukuman dan penderitaan, dosa yang mematikan.

GURU-GURU PALSU Mr 13:22


GURU-GURU PALSU
Mr 13:22
“Sebab Mesias-Mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan."

GAMBARAN.
Orang percaya dewasa ini harus menyadari bahwa di dalam gereja-gereja masa kini mungkin sekali ada pekerja Firman Allah yang sikap dan hidupnya sama dengan guru-guru bejat yang mengajarkan Taurat Allah pada zaman Yesus (Mat 24:11,24). Yesus mengingatkan bahwa tidak semua orang yang mengaku percaya pada Kristus adalah orang yang sungguh-sungguh percaya, demikian pula tidak semua penulis Kristen, utusan gerejani, gembala sidang, penginjil, pengajar, penatua, dan pekerja gereja benar-benar menjadi hamba Allah.
Secara lahiriah para rohaniwan ini "tampak benar di mata orang" (Mat 23:28). Mereka datang "dengan menyamar seperti domba" (Mat 7:15). Mungkin saja mereka melandaskan berita mereka atas Firman Allah dan menyatakan standar tinggi yang benar. Mereka mungkin kelihatan sangat memperhatikan pekerjaan dan Kerajaan Allah dan memperlihatkan perhatian besar terhadap keselamatan jiwa-jiwa yang terhilang sambil mengaku bahwa mereka mengasihi orang banyak. Mereka mungkin tampak sebagai hamba Allah yang sungguh-sungguh, pemimpin rohani yang patut dihargai, dan diurapi oleh Roh Kudus. Mereka bahkan kelihatan sangat berhasil dan banyak orang mengikut mereka (Mat 24:11,24; 2Kor 11:13-15; CAT PENUNTUN Mat 7:21-23).
Sekalipun demikian, orang-orang ini sangat mirip dengan nabi palsu dalam PL (CAT_PENUNTUN Ul 13:3; 1Raj 18:40; Neh 6:12; Yer 14:14; Hos 4:15; lih. art. NABI DI DALAM PERJANJIAN LAMA) dan orang Farisi dalam PB. Di dalam kehidupan mereka yang sesungguhnya, yaitu yang tidak tampak kepada umum, mereka dipenuhi "rampasan dan kerakusan" (Mat 23:25), "penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran" (Mat 23:27), "penuh kemunafikan dan kedurjanaan" (Mat 23:28). Kehidupan mereka di balik pintu yang terkunci menyangkut hal-hal seperti hawa nafsu, kebejatan, perzinahan, kerakusan, dan kegemaran yang memusat pada diri sendiri.
Penipu lihai ini memperoleh kedudukan yang berpengaruh di dalam gereja melalui dua cara.
Beberapa guru/pengkhotbah palsu mengawali pelayanan mereka dengan kesungguhan hati, kebenaran, kemurnian, dan iman yang sungguh-sungguh kepada Kristus. Kemudian karena kesombongan dan keinginan mereka yang tak bermoral, kasih dan pengabdian mereka kepada Kristus semakin memudar. Sebagai akibatnya, hubungan mereka terputus dengan Kerajaan Allah (1Kor 6:9-10; Gal 5:19-21; Ef 5:5-6) sehingga mereka menjadi sarana Iblis sementara masih menyamar sebagai pelayan kebenaran (lih. 2Kor 11:15).
Guru-guru/pengkhotbah palsu lainnya tidak pernah sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. Iblis telah menanamkan mereka di dalam gereja sejak awal pelayanan mereka (Mat 13:24-28,36-43) sambil menggunakan kecakapan dan karisma mereka serta membantu dalam keberhasilan mereka. Siasat Iblis ialah menempatkan mereka dalam kedudukan yang berpengaruh di dalam gereja agar mereka dapat merusak pekerjaan Kristus. Iblis mengetahui bahwa pada saat perbuatan mereka ketahuan, Injil dan nama Kristus akan sangat dipermalukan.


CARA-CARA MENGUJI.
Empat belas kali dalam kitab-kitab Injil, Yesus mengingatkan murid-Nya agar waspada terhadap pemimpin-pemimpin yang akan menyesatkan (Mat 7:15; 16:6,11; 24:4,24; Mr 4:24; 8:15; 12:38-40; 13:5; Luk 12:1; 17:23; 20:46; 21:8). Di tempat lain orang percaya dinasihati untuk menguji pengajar, pengkhotbah, dan pemimpin di dalam gereja (1Tes 5:21; 1Yoh 4:1). Langkah-langkah berikut ini dapat dipergunakan untuk menguji guru palsu atau nabi palsu.
Perhatikan watak mereka. Adakah mereka itu berdoa dengan tekun serta mengabdi kepada Allah dengan tulus dan sungguh-sungguh? Apakah mereka sudah menyatakan buah Roh (Gal 5:22-23), mengasihi orang berdosa (Yoh 3:16), membenci kefasikan dan mengasihi kebenaran (CAT PENUNTUN Ibr 1:9) serta gigih menentang dosa (Mat 23:1-39; Luk 3:18-20)?
Perhatikan motivasi mereka. Pemimpin Kristen yang sejati akan berusaha melakukan empat hal:
menghormati Kristus (2Kor 8:23; Fili 1:20);
memimpin gereja kepada pengudusan (Kis 26:18; 1Kor 6:18; 2Kor 6:16-18);
menyelamatkan orang yang terhilang (1Kor 9:19-22); dan
memberitakan serta mempertahankan Injil Kristus dan ajaran para rasul (CAT_PENUNTUN Fili 1:16; Yud 1:3).
Ujilah buah dalam kehidupan dan berita. Buah atau hasil pelayanan pekerja palsu ini sering kali terdiri atas orang bertobat yang tidak sepenuhnya menyerah kepada segenap Firman Allah (CAT_PENUNTUN Mat 7:16)
Perhatikan tingkat ketergantungan pada Alkitab. Ujian ini sangat menentukan. Apakah mereka percaya dan mengajar bahwa penulisan asli dari PL dan PB sepenuhnya diilhami oleh Allah sehingga kita harus tunduk kepada seluruh ajarannya (2Yoh 1:9-11; lih. art. PENGILHAMAN DAN KEKUASAAN ALKITAB). Jika tidak, dapat dipastikan bahwa baik mereka maupun berita yang mereka sampaikan tidak berasal dari Allah.
Akhirnya, ujilah kejujuran mereka berkenaan dengan uang Tuhan. Apakah mereka menolak untuk mengambil banyak uang untuk diri mereka, mengatur semua keuangan dengan jujur dan penuh tanggung jawab, dan berusaha memajukan pekerjaan Tuhan dengan cara-cara yang sesuai dengan standar PB untuk para pemimpin (1Tim 3:3; 6:9-10)? Haruslah disadari bahwa kendatipun segala usaha orang percaya yang setia dalam menilai kehidupan dan berita seseorang, akan ada guru-guru palsu di dalam gereja, yang dengan bantuan Iblis, tetap tidak diketahui hingga tiba saatnya Allah memutuskan untuk menyingkapkan keadaan mereka yang sesungguhnya.